Kekristenan di tengah-tengah Kepelbagaian Agama (Menurut Ajaran Karl Barth)

Barth, Wikipedia  “Sikap yang benar-benar teologis terhadap agama dan agama-agama, sebagaimana hal tersebut diharuskan dan dimungkinkan dalam Gereja sebagai locus agama Kristen, adalah toleransi yang digaungkan oleh setiap agama. Toleransi bukanlah merupakan suatu “semangat untuk bersikap tidak berlebihan” terhadap penganut dan religiusitas agama lain. Toleransi yang dimaksud adalah “melatih pengendalian diri” terhadap mereka yang telah mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa iman mereka bukanlah satu-satunya iman, bahwa fanatisme adalah hal yang buruk, bahwa kasih harus selalu menjadi kata pertama dan terakhir. Toleransi tidak boleh dibingungkan oleh sikap menyendiri orang yang rasionalistis yang berpendapat bahwa dia dapat merasa nyaman dan pada akhirnya berhasil dengan semua agama-agama melalui konsep agama yang benar. Dan juga toleransi tidak harus dibingungkan dengan relatifisme dan skeptisime yang tidak memihak, yang tidak mempertanyakan kebenaran dan ketidakbenaran dalam fenomena keberagamaan. Pandangan-pandangan tersebut sebenarnya memandang bahwa agama-agama dan manusia sebagai masalah yang serius…”

Sekilas tentang Karl Barth

Karl Barth (1886-1968) dididik oleh banyak teolog liberal terkemuka dari awal abad ke-20 (termasuk diantaranya adalah William Herman dan Adolf von Harnack). Setelah ditempatkan di Safenwil (1911-1921), ia merasa bahwa cara pandang teologinya yang kering dan angkuh tidak berguna untuk melayani penduduk di Safenwil. Kemudian ketika pada bulan Agustus 1914, 93 cendikiawan Jerman menyatakan dukungan mereka terhadap kebijakan perang Wilhelm II dalam Perang Dunia I, Karl Barth memutuskan bahwa teologi abad 19 tidak mempunyai masa depan lagi. Dalam keputusasaannya menghadapi kenyataan yang terjadi (mengingat bahwa para pengajarnya juga termasuk di dalam kaum intelektual tersebut), Barth segera menyadari bahwa ia tidak perlu lagi mengikuti etika, dogmatika atau pemahaman mereka tentang Alkitab dan tentang sejarah.

Oleh karena itu, kemudian ia mencari jalan lain untuk memahami Alkitab. Secara penuh ia memulai meninggalkan Teologi Liberal melalui Tafsiran Surat Roma (Romerbrief-1916). Dalam karyanya ini, ia memulai sebuah era baru dalam teologi dan menyatakan sikapnya atas Teologi Liberal :

“Metode historis kritis berguna pada tempatnya… akan tetapi, seandainya saya disuruh memilih antara metode tersebut atau ajaran yang dijunjung tinggi tentang Alkitab sebagai tulisan yang diilhami, maka tak ragu-ragu saya akan memilih yang kedua, yang maknanya lebih luas, lebih dalam, dan lebih penting… syukurlah saya tidak harus memilih satu dari antara kedua metode itu. Namun, seluruh tafsiran saya berdaya upaya untuk selalu meneropong melalui dan melampaui sejarah guna menemukan jiwa dari Alkitab itu, yaitu Roh yang kekal.” (Barth, Epistle to the Romans)

 Kritikan Barth mengenai agama tidak hanya terbatas pada suatu periode tertentu dalam sejarah. Ia terutama mengalamatkan serangannya kepada teologi abad 19 yang mulai muncul bertepatan dengan terbitnya karya Scheleiermacher (On Religion, Speeches to Its Cultured Despisers-1799). Sejak itu, secara umum teologi beralih fungsi menjadi filsafat sejarah agama dan secara khusus menjadi filsafat agama Kristen. Kemunduran ini lebih nyata tampak tahun 1900 melalui karya Adolf von Harnack (What is Christianity?).

Teologi abad 19 merupakan warisan dari teologi Jaman Pencerahan abad 18 dimana rasionalisme abad 18 telah meresap dan masuk kedalamnya. Masalah kunci teologi abad 19 lahir dari pendirian mereka bahwa asas teologi harus dipertentangkan dengan jamannya berikut dengan pandangannya yang bermacam-macam. Akan tetapi berbeda dengan teologi Jaman Pencerahan, teologi abad 19 memfokuskan dan menjadi dikondisikan oleh sikap ini. Mereka bergulat dengan masalah yang datang dari jamannya, yakni dengan apa yang kemukakan oleh Schleiermacher, dimana hakikat manusia seharusnya untuk “rasa dan selera untuk yang tak terhingga”, yang kemudian didukung oleh Troeltsch dengan “a priori religius”. Para teolog abad 19 kemudian menjadi menekankan kemungkinan respon bebas yang ditawarkan bagi setiap manusia, termasuk dengan jamannya.

Masalah pada teologi ini adalah pada asumsi bahwa teologi dapat mempertahankan diri dari masalah-masalah yang menyerangnya hanya dengan berfokus pada pandangan secara total terhadap manusia, dunia dan Tuhan. Hal ini menyebabkan mereka menempatkan tugas utamanya untuk menjelaskan iman Kristen dari pada harus menjelaskan pesan/ makna kekristenan. Dalam hal ini asumsi tersebut membawa mereka pada pemahaman bahwa iman sebagai realisasi terhadap satu bentuk dari hidup spiritual dan kesadaran diri. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa iman Kristen semata-mata pada kebebasan perasaan manusia, pengetahuan dan cita-cita manusia.

Akan tetapi, menanggapi teologi abad 19, Barth mencela kecenderungan mengutamakan pengalaman rohani manusia sambil mengabaikan penyataan Allah. Bagi Barth, teologi harus didasarkan atas firman Allah saja, bukan atas filsafat manusia. Secara khas ia memandang bahwa kecenderungan tersebut merupakan ketidakpercayaan dan pembenaran diri karena menggantikan penyataan dan anugerah Allah dengan ciptaan, cita-cita, pengalaman, dan usaha manusia.

Pandangan Karl Barth tentang Agama

a. Agama sebagai Ketidak-percayaan

Titik tolak pemikiran Karl Barth tentang agama sebagai ketidak-percayaan adalah dengan melihat pada sifat dasar kemunculan agama pada umumnya. Ia mengatakan bahwa latar belakang kemunculan agama dapat jelas tampak dari kenyataan bahwa pada dasarnya secara umum manusia selalu merasa berhadapan dengan kuasa-kuasa yang lebih kuat serta dapat mempengaruhi hidup dan dunianya. Pada setiap zaman dan disegala tempat, kebudayaan pada umumnya dan kehidupan perseorangan khususnya, manusia selalu dihubungkan dengan sesuatu yang menentukan hidupnya secara hakiki dan yang sekurang-kurangnya bersaingan dengan kehendak dan kemampuannya sendiri. Dan untuk menanggapi hal tersebut, manusia kemudian mewakilkan/ menyatukan semuanya dalam gambaran ilahi/ ketuhanan, dimana melaluinya manusia selanjutnya mengambil tempat untuk memuji Allah atau dewa-dewa dalam kultus yang nyata, misalnya dengan gambar atau simbol ketuhanan, dengan pengorbanan, penebusan dosa, doa-doa, kebiasaan-kebiasaan/ adat-istiadat, misteri, dan dalam bentuk komuni dan gereja.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya (tentang penyataan Allah – dalam pemikiran Karl Barth), ia kemudian menyimpulkan bahwa dalam agama, manusia memberontak terhadap Allah sebab manusia bermaksud untuk merebut apa yang seharusnya ditunggu datang dari Allah, sedemikian sehingga menghindar dari penyataan ilahi dan menutup diri terhadap-Nya dengan mengusahakan tiruan Allah yang bertentangan dengan apa yang akan diberikan oleh Allah sendiri. Agama merupakan usaha manusia untuk menghampiri Allah yang secara praktis tidak mungkin. Manusia tidak akan mampu mengulurkan tangan untuk memegang kebenaran atas prakarsanya sendiri. Manusia tidak percaya karena tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukannya ketika kebenaran datang menjumpainya (penyataan). Seandainya ia percaya, maka ia dapat mendengar, tetapi dalam agama ia malah mengambilnya. Seandainya ia percaya, ia membiarkan agar Allah sendiri membela dirinya, tetapi dalam agama malah ia berani megulurkan tangan untuk mengambil yang ilahi. Dan oleh karena agama dilatarbelakangi dan berdiri di atas usaha yang lancang itu, ia menentang penyataan dan merupakan ungkapan yang paling padat dari ketidakpercayaan. Agama merupakan sikap dan tindakan yang berlawanan dengan iman kepercayaan.

Pada hakikatnya, manusia memang dapat ‘berusaha’ untuk menghampiri Allah. Akan tetapi apa yang diperoleh manusia itu bukanlah kebenaran atau pengenalan akan Allah sebagai Allah dan Tuhan. Usaha itu merupakan khayalan/ ilusi yang tidak tepat sasaran dan sama sekali tidak berhubungan dengan Allah. Ketika manusia menghendaki apa yang diinginkannya dalam agama yakni dengan ingin membenarkan dan menguduskan dirinya melalui tindakannya sendiri, sebenarnya ia tidak berada dalam jalan yang menuju kepada Allah, melainkan sedang menutup diri dan menghindarkan diri dari sentuhan Allah. Dalam hal itulah penyataan bertindak untuk menghakimi agama-agama manusia, dimana didalamnya (agama) manusia tidak menindaklanjuti penyataan melainkan berusaha untuk “menelurkan” sesuatu.

b. Kebenaran Agama Kristen

Beranjak dari apa yang sudah diuraikan sebelumnya, Barth mengatakan bahwa penghakiman oleh penyataan terhadap agama terjadi pada semua agama termasuk agama Kristen. Dan kita tidak dapat membuat suatu kekecualian atau kekhususan bagi Agama Kristen untuk membelanya dan menemukan perbedaan dengan agama-agama lain. Orang Kristen tidak boleh menganggap hal itu tidak berlaku bagi kekristenan, sebaliknya malah harus menerimanya. Akan tetapi tujuan penerimaan terhadap penghakiman tersebut adalah untuk ikut serta/ berpartisipasi dalam janji penyataan. Orang Kristen harus menerima penghakiman sebagaimana kita mengimani janji yang juga diungkapkan oleh penyataan tersebut.

Penyataan Allah melalui pencurahan Roh Kudus selain menghakimi juga mendamaikan kehadiran Allah di dunia agama manusia, yaitu, dalam bidang dimana manusia mencoba untuk membenarkan dan menguduskan dirinya sendiri dihadapan gambar Allah yang berubah-ubah dan sewenang-wenang. Gereja adalah locus dari agama yang benar, sejauh melalui anugerah ia hidup dalam anugerah. (Barth, Church Dogmatics 1/2)

Untuk membicarakan “agama yang benar”, Karl Barth mengingatkan untuk sama seperti ketika berbicara tentang “orang berdosa yang dibenarkan”. Agama yang benar benar-benar ada sama seperti pendosa yang juga dibenarkan benar-benar ada. Penyataan pertama-tama menyangkal dan menghukum agama. Namun, oleh karena penyataan juga berisikan rahmat/ anugerah Allah dalam Yesus Kristus maka orang yang menganut agama dapat diampuni dan ditebus. Dasar untuk mengatakan bahwa agama Kristen benar adalah bukan karena ia mempunyai keyakinan bahwa ia memang benar atau memiliki kesempurnaan pada dirinya, melainkan hanya sejauh tidak mementingkan diri sendiri dan menyaksikan dengan setia anugerah Allah yang diberikan dalam Yesus Kristus itu. Seperti manusia yang juga dibenarkan oleh anugerah, agama juga dibenarkan oleh anugerah yang merupakan penyataan Allah. Hal ini menjelaskan kepada kita bagaimana penyataan dapat mengangkat agama dan menandainya sebagai agama yang benar.

Dari apa yang telah diuraikan, tersirat bahwa seluruh agama mempunyai kesempatan untuk dibenarkan oleh anugerah Allah dalam Yesus Kristus (bagi seluruh manusia). Akan tetapi Karl Barth kemudian menjawab bahwa agama Kristen memiliki perbedaan dengan agama lain dalam hubungannya secara langsung dengan nama Yesus Kristus. Dalam pada ini ditekankannya bahwa selain tindakan pemilihan, pembenaran/ penghapusan dosa serta pengudusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus terhadap agama Kristen, nama Yesus Kristus secara langsung menciptakan agama Kristen. Tanpa Yesus Kristus agama Kristen tidak akan pernah ada. Peristiwa tersebut bukanlah semata-mata peristiwa yang pernah terjadi di dalam sejarah, melainkan diciptakan oleh Yesus Kristus kemarin, sekarang dan esok (sebagaimana ciptaan yang secara umum merupakan creatio continua). Hal tersebutlah yang secara khusus membedakan agama Kristen dengan agama lainnya.
Kembali kepada yang sebelumnya sudah diutarakan, oleh karena kebenaran agama Kristen diperoleh melalui tindakan anugerah Allah dalam Yesus Kristus, lebih tepatnya dalam pencurahan Roh Kudus, lebih tepat lagi dalam eksistensi Gereja dan anak-anak Allah (yang hidup di tengah dunia dan di tengah dunia agama-agama lain), maka agama yang benar ialah pengenalan dan penghormatan akan Allah beserta tindakan-tindakan yang sesuai dengannya. Gereja dan anak-anak Allah, (wakil dari agama yang benar) hidup dari anugerah Allah dalam Yesus Kristus melalui pencurahan Roh Kudus. Mereka hanya mengenal dan menghormati Allah, berbakti kepada-Nya dalam segenap ajaran, ibadah dan kehidupan karena menyadari kebaikan Allah yang mendahului segenap pemikiran, kehendak dan tindakan manusia serta memperbaiki segala kesalahan manusia. Jika Gereja hidup oleh anugerah, maka ia dapat layak disebut sebagai tempat/ locus agama yang benar.

c. Toleransi terhadap Agama-agama

Telah disebutkan sebelumnya bahwa penyataan menetapkan Gereja sebagai locus agama yang benar. Walaupun demikian hal ini tidak berarti bahwa ia secara mendasar menjadi lebih superior dari semua agama lainnya. Dalam hal ini hubungan kebenaran agama Kristen dengan anugerah penyataan Allah tidak boleh terlalu ditekankan, melainkan pada fakta bahwa melalui anugerah, Gereja hidup oleh anugerah, sehingga dengan demikian nyatalah Gereja sebagai locus agama yang benar. Jika kita terlalu menekankan hubungan antara kebenaran agama Kristen dengan penyataan Allah, maka Gereja akan menjadi lebih menyombongkan diri.

Sikap yang benar-benar teologis terhadap agama dan agama-agama, sebagaimana hal tersebut diharuskan dan dimungkinkan dalam Gereja sebagai locus agama Kristen, adalah toleransi yang digaungkan oleh setiap agama. Toleransi bukanlah merupakan suatu “semangat untuk bersikap tidak berlebihan” terhadap penganut dan religiusitas agama lain. Toleransi yang dimaksud adalah “melatih pengendalian diri” terhadap mereka yang telah mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa iman mereka bukanlah satu-satunya iman, bahwa fanatisme adalah hal yang buruk, bahwa kasih harus selalu menjadi kata pertama dan terakhir. Toleransi tidak boleh dibingungkan oleh sikap menyendiri orang yang rasionalistis yang berpendapat bahwa dia dapat merasa nyaman dan pada akhirnya berhasil dengan semua agama-agama melalui konsep agama yang benar. Dan juga toleransi tidak harus dibingungkan dengan relatifisme dan skeptisime yang tidak memihak, yang tidak mempertanyakan kebenaran dan ketidakbenaran dalam fenomena keberagamaan. Pandangan-pandangan tersebut sebenarnya memandang bahwa agama-agama dan manusia sebagai masalah yang serius. Jika toleransi yang dimaksud adalah sikap yang “tidak berlebih-lebihan”, pemahaman superior, atau skeptisisme, maka sebenarnya toleransi tersebut merupakan sikap terburuk ketidak-toleranan.
Hubungan agama dan agama-agama harus dirawat melalui toleransi dengan memahami bahwa Allah telah mendamaikan dirinya dengan orang yang tidak bertuhan (berikut dengan agamanya) melalui anugerah, seperti kesabaran (pengendalian diri) yang ditunjukkan oleh Kristus. Secara analogis, agama lain harus dilihat seperti manusia yang keras kepala dilengan ibunya, dimana Allah tetap melakukan tindakan penyelamatan walaupun ia ditentang. Jenis toleransi ini, hanya dapat mungkin dilakukan oleh siapa yang siap untuk merendahkan agama dan dirinya sendiri bersama dengan manusia, dengan setiap masing-masing individu, mengetahui bahwa mereka pertama dan agama mereka, membutuhkan toleransi, sebuah toleransi yang teguh dan sabar.
Sebagaimana Allah mendamaikan dunia pada dirinya sendiri dalam Dia [Yesus Kristus], Dia menempatkan ulang seluruh usaha manusia untuk mendamaikan Allah dengan dunia, melalui pembenaran, pengudusan dan pemulihan serta penebusan.(Barth, Church Dogmatics, 1/2)
Agama memaksa kita kepada persepsi/pandangan bahwa Allah tidak dapat ditemukan dalam agama. Agama membuat kita mengetahui bahwa kita berkompeten untuk tidak dapat bergerak. Agama, sebagai kemungkinan terakhir manusia, memerintahkan kita untuk berhenti. Agama membawa kita ke tempat dimana kita harus menunggu, dalam tujuan bahwa Allah dapat berhadapan dengan kita.

Saat penyataan Allah harus dimengerti dan dijelaskan sebagaimana apa yang dibuktikan kepada Gereja (yang merupakan milik Yesus Kristus) oleh Kitab Suci. Itulah mengapa ketika kita menanyakan bagaimana Allah melakukan dan dapat datang kepada manusia dalam penyataan-Nya, kita dipaksa untuk memberikan jawaban yang jelas bahwa kenyataan dan kemungkinan saat tersebut adalah tindakan dan hakikat hanya oleh Allah, dan secara khusus Roh Kudus. Itu hanya demi sebuah pemahaman yang lebih baik bahwa kita dapat membedakan antara keduanya (kenyataan dan kemungkinan). Dan apa yang telah kita mengerti hanyalah ini, bahwa kita harus melihat keduanya dalam Allah dan hanya pada Allah. Untuk itu kita tidak dapat melihat perbedaan lebih serius. Kita tidak dapat menyatukan kenyataan penyataan dalam Allah, dan kemudian menemukan dalam diri manusia kemungkinan untuk itu. Kita tidak dapat memusatkannya pada Allah dan kemudian menambhakan kepada manusia alat dan titik temu bagi hal tersebut.

“In so far as God reconciles the world to Himself in Him, He replaces all the different attempts of man to reconcile God to the world, all our human efforts at justification and santification, at conversion and salvation.”

3 Responses

  1. siapa sebenarnya yesus kritus?

  2. Ini adalah pertanyaan dari seseorang yang ingin diberikan pemahaman akan konsep kristiani dalam mengartikan hidup manusia dan essensi Tuhan. Maafkan jika pertanyaan yang muncul ada yg tidak berkenan. Ini hanya ekspresi dari seorang manusia yang ingin bertanya atas sesuatu. Apalagi ini adalah sangat penting utk hidup manusia seluruhnya. Antara benar dan salah, antara selamat atau celaka, antara surga dan neraka.
    Terimakasih jika ada yang berkenan menjawabnya. Semakin ahli dalam agama kristiani semakin baik karena jawabannya pasti akan lebihh memuaskan dan bisa dijadikan pedoman.

    1. Siapakah Tuhan, siapakah Yesus kristus, siapa Roh kudus?

    2. Siapa Tuhan sebenarnya diantara mereka-mereka itu?

    3. Apa mereka satu kesatuan atau terpisah-pisah?

    4. Apa ini yang dinamakan 3 in 1 atau 1 in 3 (seperti promosi merk shampo atau pengaturan lalu lintas di jakarta)?

    5. Bagaimana cara menjelaskan jika 1 = 3 atau 3 = 1?

    6. Bagaimana menjelaskan pada manusia, bahwa Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Suci itu menjelma menjadi manusia yang notabene adalah makhluk ciptaan Nya, untuk menjelaskan siapa dirinya lalu menghinakan dirinya terhadap makhluk yang dibuatnya dengan rela disalib, dicambuk, dicaci maki lalu digantung dihadapan manusia agar manusia percaya kepada diri Nya, dan mengampunkan dosanya jika percaya bahwa Tuhan sudah dengan rela menista dan menghancurkan kredibilitas Ketuhanan Nya?

    7. Sedemikian berkuasanya kah manusia, hingga Tuhan yang membuatnya harus bertekuk lutut dengan rela menyalib dirnya(orang yang disalib adalah orang terkutuk menurut kepercayaan saat itu)?

    8. Jika tuhan memang merencanakan dirinya sendiri untuk disalib dan dihina seperti itu, kenapa tuhan itu harus merintih kepada Tuhan lain dengan mengatakan,”Elli, Elli..lamma sabach tani.”?

    9. Jika Tuhan itu Maha Kuasa, seperti juga diyakini oleh orang Nasrani, kenapa dia tidak buat saja semua manusia beriman dan tidak ingkar kepadaNya, bukankah dia maha berkuasa atas segala sesuatu tanpa batas? Tanpa harus mempermalukan dan menghinakan Kemuliaannya dihadapan manusia?

    10. Sudah begitu cara tuhan merendahkan harkat dan kemuliaan Ketuhanan nya, sampai hari ini lebih banyak bahkan 3/4 manusia tidak percaya pada model ketuhanan hina dina macam begitu? (Betapa sia-sia dan betapa lemahnya tuhan itu padahal dia berkuasa dan sanggup melakukan apa saja)

    11. Kalau lebih banyak manusia tak mempan dengan model keselamatan yang ditawarkan tuhan macam itu, berarti sangat banyak manusia yang masuk neraka dibanding orang masuk surga. Dimana makna kasih tuhan yesus disini? kenapa tak diselamatkannya saja semua manusia atau janganlah semua sebagian besar aja sudah baik.

    12. Dari data-data resmi terkini, dibenua Eropa maupun amerika makin banyak manusia yang tidak mau lagi percaya dengan pola ketuhanan macam begitu. banyak yang jadi atheis bahkan ada pula yang pindah agama. Bahkan kemajuan tekhnologi Eropa dan Amerika (bermula dari revolusi Prancis), sama sekali tidak terinspirasi pada iman ketuhanan macam itu. Mereka mengatakan kemajuan itu karena mereka keluar dari kungkungan dogma-dogma kristen. Bisakah diterangkan?

    13. Jika karena rasa belas kasihan dan cintanya pada manusia ,kenapa dia tidak ciptakan aja model manusia yang punya kemungkinan tipis untuk tidak taat kepadanya dari semenjak awal penciptaan manusia, sehingga tidak perlu tuhan menghancurkan dan menghinakan martabat ketuhanannya yang katanya maha pencipta, maha kuasa dan maha segalanya itu?

    14. Pernahkah cinta bisa dibeli dengan menghinakan diri dan merendahkan martabat diri? Bukankah Tuhan maha Mulia katanya seperti ada ditulis dalam Injil.

    15. sebagai analogi saja, Bisakah terjadi seorang majikan rela ditelanjangi,dicambuk,diludahi, kemudian digantung sampai mati oleh budaknya sendiri supaya budaknya taat pada kemauannya?

    16. Apakah orang-orang yang berperan dalam prosesi penyaliban tuhan itu, orang yang mencambuk, orang yang meludahi tuhan itu, orang yang taruh duri dikepala tuhan yang disalib itu akan masuk surga atau neraka? bukankah mereka sangat berperan penting dalam membantu tuhan mempercepat proses kematiannya yang hina itu untuk menyelamatkan manusia.

    Semoga ada yang berkenan menanggapi rupa-rupa tanya yang mengganjal hati ini, sehingga bisa diberikan kepahaman,
    Maaf jika ada kata-kata yang terkesan tajam, tapi itu hanya ekspresi terbuka dari apa ang ada dalam pikiran.
    Terimakasih

  3. saya rasa ajaran yang dikembangkan oleh Kaarl barth tidak sesuai dengan ajaran alkitab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: