Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama dan Tanggung Jawab Global

Catatan: Artikel ini merupakan risalah dari buku Dr. Paul F. Knitter, Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama dan Tanggung Jawab Global

Prinsip fundamental kisah penciptaan ilmiah (mis. Teori Big Bang) sejalan dengan apa yang diakui kebanyakan agama tentang kisah penciptaan. Dengan kesadaran baru tentang alam semesta dan pemahaman atas hubungan ekologis kita dengannya, kita bisa berbicara tentang alam semesta sebagai suatu komunitas keagamaan yang lebih luas, di mana berbagai komunitas sejarah dari berbagai agama yang khusus dan beragam bisa saling mengenal dan sadar; bagaimana agama yang khusus dan beragam bisa saling mengenal dan sadar; bagaimana kisah individu mereka masingmasing merupakan bagian dari kisah alam semesta. Di dalam komunitas Bumi yang baru ditemukan ini, agama bisa saling memahami dengan cara yang baru. Oleh karena apa yang kita ketahui tentang Bumi dan alam semesta masa kini membekali agama bukan hanya dengan kemungkinan untuk memiliki kisah religius yang sama tetapi juga, dengan suatu tugas etis bersama yang diperlukan dan pedoman untuk menjalankan tugas itu…

Bab 1. Petualangan Dialogisku

Tugas seorang teolog Kristen – yaitu upaya membantu umat menengahi masalah hubungan antara tradisi Kristen dan budaya (-budaya) – sangat dipengaruhi oleh masyarakat maupun berbagai peristiwa dalam hidupnya. Kalau dilihat ke beberapa dekade lalu, kelihatannya ada dua Yang Lain yang utama yang telah mempengaruhi hidup dan teologi saya: yang religius dan yang menderita.

Sampai permulaan tahun 80-an, yang paling penting dalam kehidupan sosial maupun teologi saya adalah mereka yang religius yang berasal dari agama-agama lain. Kemudian perjalanan dunia dan berbagai pengalaman pribadi membawa saya ke dalam suatu dunia atau lingkungan orang lain yang berbeda dan lebih luas masuk ke dalam kehidupan saya, yang mewakili begitu banyak manusia di seluruh dunia yang mengalami penderitaan secara tidak adil yang sebenarnya tidak usah terjadi. Kini saya memahami dan merasa bahwa penderitaan bukan hanya dialami oleh manusia tetapi semua makhluk yang mempunyai perasaan, termasuk bumi kita. Jadi, berbagai rekan maupun peristiwa dalam hidup saya telah membawa, terkadang memikat saya ke dalam apa yang bagi saya menjadi kewajiban moral untuk menerima “pluralisme dan pembebasan”, atau “dialog dan tanggungjawab global”. Tujuan buku ini adalah untuk mendorong suatu dialog antar-agama yang pluralistik dan membebaskan. Pendekatan yang saya teliti ini saya sebut sebagai dialog yang korelasional dan bertanggungjawab secara global di antara berbagai agama. Agar dialog korelasional itu dapat berlangsung, perjumpaan dialogis harus dilakukan dalam suatu komunitas yang egaliter, bukan hierarkis.

Bab 2. Berbicara tentang Masalah Sebenarnya

Ada dua model yang dewasa ini muncul mengenai sikap terhadap agama-agama, yakni eksklusivisme dan inklusivisme. Masalah dalam eksklusivisme adalah pengakuan terhadap kebenaran atau kuasa penyelamatan dari agama atau tokoh agama lain merupakan suatu tamparan terhadap muka Allah; suatu pencemaran terhadap apa yang telah dilakukan Allah dalam Yesus. Sedangkan masalah dalam inklusivisme, Kristus bagi umat Kristen – kebenaran yang meyakinkan itu yang dengannya mereka hidup dan norma penuntun yang dengannya mereka masuk ke dalam arena kebenaran-kebenaran lainnya. Menghilangkan klaim kebenaran yang normatif, menentukan dan final, berarti menggerogoti dialog dari otot-ototnya dan menggantikannya dengan suasana panas yang merusak.

Unsur-unsur penting dalam model yang korelasional dan bertanggungjawab secara global adalah pemahaman tentang agama-agama lain, pemahaman tentang keunikan Kristus, serta pemahaman atas dasar dan tujuan dialog. Untuk suatu model dialog antar-agama yang pluralis dan korelasional, harus mengakui kemungkinan adanya nilai dari agama-agama lain selain agama Kristen. Sementara itu, tentang keunikan Kristus, kristologi pluralis tidak pernah mempermasalahkan apakah Yesus itu unik, namun hanya bagaimana. Dasar dan tujuan dialog adalah pluralistik dan bertanggungjawab secara global. Dialog antar-agama yang bertanggungjawab secara global berusaha menggambarkan kesempatan yang melekat dalam kebutuhan dari suatu pengalaman.

Bab 3. Berbagai Masalah dan Kesulitan

Dari perspektif pascamodern yang pilar utamanya terletak pada dominasi kepelbagaian, ada berbagai peringatan (kritik) yang muncul. Pertama-tama adalah bahaya bergesernya sikap pluralis menjadi imperialis. Hal ini akan terjadi jika mereka terlalu cepat mensyaratkan atau menggambarkan dasar bersama yang membentuk kesatuan diantara berbagai agama dan terlalu mudahnya membuat pedoman bersama bagi dialog antar-agama. Peringatan tersebut menjadi serius karena mereka yang menganut pendekatan pluralis terhadap agama tidak melihat betapa beragam agama-agama di dunia ini dan juga karena mereka tidak sadar betapa terbatasnya rencana universal mereka sendiri, mereka akhirnya menjadi pluralis setengah matang yang telah menjadi imperialis anonim. Masalah kedua adalah jika model pluralis terus mempertahankan tanggungjawab dan keadilan global sebagai sentral, hal ini akan menjadi lebih eksklusif ketimbang plural. Mempertahankan keadilan atau keprihatinan terhadap dunia ini sebagai inti – atau bahkan elemen penting – dalam dialog berarti melarang agama-agama tersebut berpartisipasi. Masalah yang ketiga adalah masalah politis yang disebabkan universalisme. Para pluralis yang bermaksud baik bisa menjadi pelaku atau pion penindasan atau perlakuan buruk terhadap pihak lain. Kaum pluralis sangat mudah tergelincir ke dalam permainan kekuasaan.

Disamping permasalahan diatas, suatu masalah yang baru muncul adalah kemunculan suatu model baru di samping pemahaman eksklusif-inklusif tradisional maupun pluralis. Dengan memanfaatkan wawasan-wawasan pascamodernitas, sejumlah teolog Kristen mengusulkan suatu model alternatif yang disebut dengan model pascaliberal. Inti pemikirannya adalah bahwa umat Kristen – sebenarnya semua umat beragama – harus lebih banyak berada dalam ranah khusus mereka masing-masing. Akan tetapi, walaupun harus tinggal dalam ranah khusus kita sendiri, kita tidak boleh mengabaikan tetangga kita. Ini bukan berarti bahwa kita berusaha mencari metode atau dasar dimana kita dapat saling memahami, tetapi bahwa kita membiarkan mereka memahami siapa kita. Namun ada berbagai tanggungjawab lainnya untuk menjadi tetangga yang baik. Kita harus berbicara dengan mereka. Oleh karena itu (dalam perjumpaan yang ad hoc) yang ditekankan adalah “apologetika”. Namun tugas utama adalah tetap menjaga identitas masing-masing sambil bersaksi. Dengan pendekatan dialog demikian, tidak ada pihak yang harus berapologi. Oleh karena itu, model pascaliberal merasa lebih memadai untuk kesadaran pascamodern dan lebih cocok untuk keyakinan Kristen daripada model pluralistik-korelasional.

Bab 4. Penderitaan Global Menuntut Tanggung Jawab Global

Walaupun kritik dan peringatan yang muncul dari pascamodern tulus dan absah, akan tetapi kalau keberatan-keberatan semacam itu dijadikan alasan untuk meninggalkan atau mengurangi upaya kita dalam mengadakan respons yang kooperatif dan terkoordinasi dari berbagai bangsa dan agama terhadap realitas penderitaan manusia dan perusakan lingkungan, maka pasti ada sesuatu yang salah dalam semua keberatan itu. Memaksakan dominasi kepelbagaian dan ketidakmugkinan menemukan dasar bersama untuk keputusan etis bersama bisa mengarah kepada kelesuan atau kesepian moral. Disamping itu, kalau kita tidak memiliki agenda bersama, kalau tidak ada kriteria yang sama yang bisa dipakai dalam konsensus tanpa kekerasan, maka akhirnya apa yang dikatakan “benar” akan ditentukan oleh kekuasaan – oleh yang punya uang atau senjata. Oleh karena itu, walaupun kita menikmati kepelbagaian, kita juga harus mengupayakan apa yang dapat mempersatukan kita dalam keprihatinan dan tindakan bersama untuk mengatasi penderitaan sesama di planet kita ini.

Apa yang saya katakan bukanlah bahwa ada semacam esensi bersama atau pengalaman religius yang sama ataupun suatu tujuan bersama yang jelas dalam semua agama. Akan tetapi saya menunjuk pada sesuatu yang saya pikir sudah jelas secara kejam dan menyakitkan ketika seseorang memandang dan mencoba hidup dalam dunia ini seperti apa adanya: ada suatu konteks bersama yang di dalamnya terdapat berbagai masalah yang kompleks. Konteks ini membutuhkan suatu agenda bersama di mana semua agama dapat bersama-sama memahami dan memberi makna satu sama lain. Apa yang sama dalam berbagai masalah ini maupunn dalam konteks yang saya maksudkan adalah pengalaman atas kenyataan penderitaan yang mengerikan – penderitaan yang menguras kehidupan dan membahayakan masa depan umat manusia dan planet ini. Setidak-tidaknya ada beberapa latar belakang penderitaan dunia ini, dalam berbagai bentuk dan akarnya. Penderitaan badaniah disebabkan oleh karena kemiskinan. Penderitaan bumi disebabkan oleh karena penyalahgunaan. Penderitaan roh disebabkan oleh karena viktimisasi (yang juga berarti ketidakadilan).

Oleh karena keadaan yang memprihatinkan dari penderitaan-penderitaan dunia ini, ada sekelompok orang yang berusaha merumuskan suatu etika global yang dapat dipakai sebagai dasar yang dapat menuntut sikap bersama untuk mengatasi semua krisis yang ada. Salah satunya adalah Hans Kung yang berpendapat bahwa masalah-masalah yang mengancam manusia kini membutuhkan penanganan bersama dan terpadu, namun hal itu tidak mungkin terjadi kecuali didasarkan pada dan diarahkan oleh satu persetujuan bersama tentang tujuan etis dan cara-cara etis yang dipakai untuk mencapai tujuan itu.

Etika global semacam itu, yang diperlukan untuk melestarikan aksi global tidak bisa dirumuskan tanpa sumbangan agama. Dalam berbagai simbol dan naratif yang sangat berbeda-beda, agama menawarkan kepada para pengikutnya suatu visi tentang pengharapan bahwa mereka dan dunianya bisa berbeda, bisa mengalami transformasi, bisa menjadi lebih baik. Keyakinan religius bahwa visi pengharapan ini bisa terlaksana didorong dan dikuatkan oleh energi yang dimiliki agama untuk menjalankan keyakinan itu, menghimpun kita semua untuk tujuan itu, apa pun yang terjadi. Inilah kontribusi dari visi dan energi yang dapat dan harus diberikan agama dalam merumuskan dan menindaklanjuti suatu etika global. Usulan Kung ini, walaupun barangkali lebih kompleks dari yang diduganya, dan walaupun harus dilaksanakan dengan lebih berhati-hati dalam bentuk yang lebih berbeda dari yang diusulkannya, merupakan pandangan yang akan diterima oleh lebih banyak orang dan bangsa-bangsa di dunia ini. Kita membutuhkan bentuk-bentuk kerjasama etis baru yang bisa dipakai untuk melaksanakan dialog dan konsensus etis yang baru, dan untuk inilah, semua agama – secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri – memainkan peranan yang sangat penting.

Bab 5. Tanggungjawab Global: Dasar Bersama Bagi Dialog Antar-Agama

Dalam upaya menyeimbangkan kepelbagaian religius-kultural dengan tanggungjawab global, menurut saya, tanggungjawab lebih penting daripada kepelbagaian. Kalau kini orang sedang mencari sesuatu yang bisa menjadi dasar kepercayaan mereka bagi kemungkinan dialog yang autentik dan yang akan mengarahkan upaya mereka dalam kemungkinan ini menjadi kenyataan, saya kira mereka dapat menemukannya di sini: suatu tanggungjawab global terhadap kesejahteraan manusia dan ekologi. Tanggungjawab ini dapat memberikan motivasi untuk mendorong kebutuhan untuk berdialog yang diakui secara global. Karena keprihatinan semacam itu, terhadap soteria menciptakan solidaritas secara alamiah dan otomatis, maka keprihatinan tersebut memberikan motivasi dan komitmen terhadap tugas dialog antar-agama. Solidaritas ini menghubungkan kosmos, kemanusiaan, dan keilahian dalam suatu mutualitas dan kesalingterhubungan di mana kita semua bertanggungjawab terhadap kesejahteraan satu sama lain. Solidaritas semacam ini hanya dapat diyakini atas dasar percaya kepada Roh universal – atau kepada sesuatu yang memberikan identitas kita, namun menghimpun kita dalam kesatuan, dan memanggil kita untuk saling melayani. Jadi, Roh bukanlah suatu dasar tetapi suatu kesalingterhubungan yang memupuk persatuan melalui partikularitas, dalam kasih bersama.

Melaksanakan suatu dialog antar-agama yang soteriosentris yang memiliki tanggungjawab global sebagai konteksnya, titik berangkatnya, dan tujuannya adalah mengusulkan suatu dialog di mana praksis memainkan peranan penting. Mitra dialog tidak boleh hanya berbicara tentang tradisi religius mereka masing-masing tetapi juga tentang bagaimana tradisi itu bisa dipahami dan perlu dipahami ulang dalam dunia kontemporer kita. Dialog harus menghubungkan tradisi kita dengan pengalaman kita dan dunia ini. Penderitaan itu universal dan bersifat langsung sehingga menjadi ranah yang sangat cocok, dan diperlukan untuk membangun suatu dasar bersama dalam melaksanakan perjumpaan antar-agama. Oleh karena itu, suara korban yang tersingkir – termasuk mereka yang berbicara atas nama Bumi yang dikorbankan – memiliki tempat terhormat dalam dialog, bukan karena mereka begitu berbeda, tetapi karena perbedaan mereka menantang dan bisa merusak atau mengalihkan kesadaran kita.

Bab 6. Keadilan Siapa? Pembebasan Siapa?

Walaupun pada umumnya agama berhubungan dengan Allah atau yang terkhir, dan dengan kehidupan sesudah mati, dan dengan hal mengubah atau memperluas kesadaran kita – tetapi agama juga berhubungan dengan hal menghadapi, menetapkan, dan kemudian memperbaiki apa yang salah dalam cara manusia menjalankan kehidupan bersamanya di dunia ini. Agama mengundang hal-hal yang lebih daripada sekadar manusiawi untuk mentransformasi atau membebaskan manusia. Karena pengalaman keagamaan yang berbeda-beda itu muncul dari dalam komitmen yang sama terhadap tanggungjawab global, kita bisa menjadi lebih percaya diri bahwa kebanyakan perbedaan keagamaan kita tidak akan saling bertentangan, tetapi justru analogis dan komplementer.

Upaya mengatasi penderitaan dan ketidakadilan tidak hanya memberikan kepada kita “indra peraba” pengalaman yang dengannya kita bisa memahami bahasa keagamaan tetapi juga suatu proses eksistensial, yang dalam kepelbagaian wujudnya dapat ditemukan dalam kebanyakan tradisi keagamaan. Pengalaman-pengalaman keagamaan bisa sama untuk setiap pengikut semua agama. Oleh karena itu, bahwa ketika umat berbagai agama mencari suatu communicatio in sacris yang multi-iman, maka kini mereka juga bisa berbagi pengalaman dan bahasa religius mereka dalam praksis konkret dari spiritualitas global dan upaya menegakkan keadilan bagi manusia dan lingkungan seperti yang dituntut tanggungjawab semacam itu.

Bab 7. Satu Bumi dan Beragam Kisah Kita

Prinsip fundamental kisah penciptaan ilmiah (mis. Teori Big Bang) sejalan dengan apa yang diakui kebanyakan agama tentang kisah penciptaan. Dengan kesadaran baru tentang alam semesta dan pemahaman atas hubungan ekologis kita dengannya, kita bisa berbicara tentang alam semesta sebagai suatu komunitas keagamaan yang lebih luas, di mana berbagai komunitas sejarah dari berbagai agama yang khusus dan beragam bisa saling mengenal dan sadar; bagaimana agama yang khusus dan beragam bisa saling mengenal dan sadar; bagaimana kisah individu mereka masingmasing merupakan bagian dari kisah alam semesta. Di dalam komunitas Bumi yang baru ditemukan ini, agama bisa saling memahami dengan cara yang baru. Oleh karena apa yang kita ketahui tentang Bumi dan alam semesta masa kini membekali agama bukan hanya dengan kemungkinan untuk memiliki kisah religius yang sama tetapi juga, dengan suatu tugas etis bersama yang diperlukan dan pedoman untuk menjalankan tugas itu.

Karena penderitaan manusia dan lingkungan itu universal maupun langsung, ia bisa menjadi konteks dan kriteria bersama bagi semua umat beragama untuk menilai berbagai klaim kebenaran religius. Namun, agar berhasil, tidaklah cukup bahwa para peserta dialog antar-agama hanya “mengingat” kenyataan penderitaan, korban ketidakadilan manusiawi dan ekologis. Yang menderita, para korban, harus turut menentukan agenda dialog, prosedurnya, formatnya, tempatnya dan bahasa juga. Dengan kehadiran aktif suara mereka yang menderita dalam wacana antar-agama, para peserta bisa menerapkan kriteria etis-politis dengan lebih realistis dan efektif. Jadi, terutama dalam tingkat praktis ini, umat beragama dapat mengalami klaim kebenaran mereka sebagai absolut dan relatif. Refleksi tentang kesejahteraan manusia dan lingkungan sebagai kriteria relatif-absolut semacam ini bisa berwawasan, bahkan juga inspiratif.

Bab 8. Bagaimana Cara Kerjanya?

Dialog selalu merupakan langkah kedua selayaknya apa yang dikatakan oleh para teolog pembebasan (teologi selalu merupakan langkah kedua). Arah dialog praktis ditujukan pada: ketika umat beragama berbagi pergumulan bersama sebagai umat beragama, mereka akhirnya akan berbicara tentang agama. Mereka akan berbagi apa yang menggerakkan dan menuntun mereka dalam ketekunan mereka mengobati penderitaan sesama dan Bumi ini. Di dalam metode yang liberatif atau yang bertanggungjawab secara global, roda hermeneutik berputar dengan empat jarijari yang terus-menerus saling mengajak dan membantu. Semua kata yang menggambarkan empat jari-jari ini mulai dengan awalan atau preposisi (“with”) yang diinggriskan: com-passion, conversion, col-laboration, com-prehension.

1. Compassion (Belas Kasih) adalah gerakan pertama menuju perjumpaan antar-umat berbeda agama. Mereka yang merasakan hal tersebut akan mendapat diri mereka terhubungkan dua arah: dengan para korban dan dengan mereka yang menanggapi dengan belas kasih yang sama.

2. Conversion (Pertobatan) adalah merasa bersama, dan bagi sesama yang menderita berarti merasa diklaim oleh mereka. Mereka bukan hanya menyentuh perasaan kita, tetapi juga mengajak kita memberi tanggapan. Sesungguhnya, merasa berbelas kasih berarti bertobat; hidup kita berbalik dan berubah. Namun ini adalah pertobatan bersama. Jadi dalam pertemuan-pertemuan awal dari satu dialog liberatif, umat berbeda agama akan berbicara tentang bagaimana mereka merasa berbelas kasih dan bagaimana mereka merasa diubah oleh berbagai pengalaman ketidakadilan atau penderitaan manusia dan lingkungan – atau bagaimana mereka sendiri menjadi korban.

3. Collaboration (Kolaborasi): Rasa belas kasih terhadap penderitaan dan bertobat atas penyebabnya akan memungkinkan adanya tindakan. Di sinilah letaknya pusat praksis liberatif yang akan mempererat ikatan eksistensial manusia di antara umat yang berbeda latar belakang agama. Pertama, praksis ini menunjuk agar sesudah menyetujui masalah-masalah yang akan ditangani, para peserta dialog berupaya mengidentifikasi dan memahami asal-usul atau penyebab masalah-masalah tersebut. Ini membutuhkan semacam analisis sosio-ekonomi bersama. Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk saling mendengarkan analisis dan usulan masing-masing yang berakar di dalam dan ditopang oleh sikap belas kasih terhadap mereka yang menderita; jadi, keprihatinan utama yang mengarahkan pembicaraan bukanlah keinginan masing-masing untuk memperkenalkan agenda atau keyakinan religius masingmasing, tetapi keinginan untuk menghapus penderitaan dan memperbaiki keadaan. Lebih efektif lagi, berbagai upaya yang dilakukan oleh multi-agama dalam membangun kolaborasi dari dalam kepelbagaian analisis dan rencana akan dituntun dan selalu dikoreksi oleh para korban dan kaum miskin yang tengah berjuang. Mereka berfungsi sebagai “wasit” di antara berbagai pemikiran umat beragama yang berbeda-beda.

4. Comprehension (Pemahaman): setelah multi-agama ini bertindak dan menderita bersama, setelah terpanggil bersama-sama secara baru oleh para korban dari Bumi ini – kini mereka akan merenungkan dan berbicara tentang berbagai keyakinan dan motivasi religius mereka. Kini mereka mulai berusaha “mendengar kembali” atau “meninjau ulang” kitab suci, keyakinan dan kisah masing-masing serta kemudian menjelaskannya bukan hanya kepada mereka sendiri, tetapi juga kepada orang lain tentang apa yang menggerakkan dan menuntun serta melestarikan sikap belas kasih, pertobatan, dan kolaborasi mereka demi kesejahteraan manusia dan lingkungan. Oleh karena dialog yang liberatif dan bertanggungjawab secara global hanya bisa dilakukan dalam suatu komunitas, oleh karena itu diperlukan komunitas basis manusiawi. Dalam komunitas ini, upaya mereka untuk saling berinteraksi harus juga melibatkan keprihatinan bersama tentang kesejahteraan manusia dan ekologi. Jadi prioritas utama sebagai tipe dialog yang liberatif dan bertanggungjawab secara global adalah dialog aksi. Akan tetapi, walaupun demikian dialog semacam itu harus juga mencakup dialog studi dan dialog spiritualitas agar dapat kuat dan berputar.

Bab 9. Bisa Dilaksanakan

Untuk melihat bagaimana hal ini mulai dilaksanakan, di India agar dialog antar-agama bisa relevan dan autentik di India masa kini, para peserta harus peduli atas pembebasan manusia (dan banyak menambahkan kepedulian atas lingkungan juga). Di India tidak ada perubahan sosial efektif yang terjadi tanpa ditopang kekuatan religiositas masyarakat. Teologi pembebasan tidak bisa berciri Kristen. Ia harus bersifat antar-agama. Walaupun barangkali tidak seterpadu umat Kristen, ada juru bicara dari berbagai tradisi keagamaan lainnya di India yang juga bersiteguh dan bahkan bersemangat mengundang suatu pertemuan agama-agam yang perhatian utamanya adalah penderitaan sosial dan ekonomi yang luas dari mayoritas penduduk India. Tetapi tidak semuanya sejiwa dan sejelas yang diharapkan.

Oleh karena komunalisme yang menggambarkan konflik di India, di sini kita dihadapkan dengan sebuah paradoks lain. Justru kesulitan atau ketidakmungkinan suatu dialog liberatif di antara agama di India merupakan alasan, atau setidaknya kesempatan mendesak, bagi pentingnya dilaksanakan dialog itu. Di benak orang India, maksud untuk mempertahankan atau mengamankan kekuasaan politik-ekonomi, tidak diragukan: mereka tidak dapat melakukannya tanpa memakai agama – biasanya tipe agama yang fundamentalis – sebagai bagian dari program partai mereka. Di sinilah iman agama dapat memberikan suaranya: kebulatan tekad di antara para politisi di India dalam penyalahgunaan agama harus diimbangi dengan keteguhan hati dan komitmen berbagai komunitas keagamaan untuk mengembangkan cara menggunakan agama yang benar menurut keyakinan agama mereka. Bagi orang India, dialog merupakan hal yang kedua atau ketiga dilakukan. Alasannya bukanlah karena pertimbangan-pertimbangan hermeunetik bahwa praksis bersama merupakan lahan di mana pemahaman dapat bertumbuh. Tetapi alasannya terletak pada keyakinan bahwa berbagai kenyataan sosiologis masa lampau dan kini telah meyakinkan masyarakat India bahwa tanpa langkah persiapan yang baik, lahan dialog di India gersang.

Ada beberapa contoh dari apa yang disebut dengan dialog yang korelasional dan bertanggungjawab secara global.

1. Dialog Dalit
Walaupun kebanyakan apa yang disebut gerakan Dalit sekuler masih berhati-hati memakai agama sebagai perekat tambahan untuk mengikat berbagai bentuk pengalaman Dalit, banyak di antara mereka yang sudah mulai menemukan pengertian lain tentang apa itu agama atau agama bisa menjadi apa: bukan hanya suatu bentuk budaya yang diberikan yang harus mereka hadapi, tetapi juga seperangkat kuasa transformatif dan subversif yang diabaikan. Kalau berbagai kelompok Dalit saling terbuka, pertama-tama dalam praksis bersama bagi kesejahteraan manusia dari semua Dalit dan kemudian dalam dialog religius bersama, maka mereka juga sadar bahwa ada begitu banyak hal yang sama di antara mereka seperti yang ada dalam bentuk-bentuk spiritualitas dan bahkan dalam berbagai teks sakral mereka atau tradisi lisan yang telah menuntun kehidupan leluhur mereka. Dalam dialog antar-agama di antara para Dalit yang mulai banyak di India, teks-teks dan ceritacerita semacam inilah yang dibahas dan ditafsir.

2. Komunitas Basis Gandhi
Komunitas basis atau akar rumput Gandhi menamakan dirinya demikian jikalau visi yang menyatukan visi mereka adalah visi Gandhi, bahwa semua orang India dari semua tingkatan sosial, kasta, dan agama mempunyai tanggungjawab pribadi untuk membangun suatu bangsa yang bersatu yang mengakui kepelbagaian, suatu bangsa yang didasarkan atas keadilan untuk semua. Organisasi awal dari komunitas-komunitas ini merupakan hasil dari berbagai percakapan antar-agama. Pertemuan ini diharapkan dapat mewujudkan visi Gandhi tentang komunitas yang saling bertatap muka (face to face communication) yang akan menjamin rasa memiliki kemampuan dikalangan orang kecil di dalam desa setempat. Rencana praktisnya adalah mencari desa-desa yang berminat dan membentuk komunitas yang terdiri dari tidak lebih dari tiga puluh keluarga yang akan dilatih dalam masalah kepemimpinan dan organisasi. Dalam pertemuan-pertemuan komunitas basis Gandhi (Basic Gandhiean Community) telah terlihat bahwa bagaimana dinamika dialog antar-agama yang “kolerasional dan bertanggungjawab secara global” dilaksanakan.

3. Para Rasul Dialog dan Pembebasan di Sri Lanka
Di Sri Lanka, komunitas basis manusiawi terbentuk di sekitar Tulana Centre, yaitu Assoiciation for Hearing Impaired Children. Asosiasi ini merupakan wujud nyata dari komitmen, profesionalitas, dan impian Suster Greta Nalawatta, yang dibina secara spiritual dan material oleh Pieris, yang dibangun khusus menangani anak-anak pra-sekolah yang tuna-rungu. Dalam situasi semacam ini, suatu komunitas yang peduli dan ingin bekerjasama muncul; para anggotanya terutama terdiri dari orangtua anak-anak tuna-rungu itu yang berasal dari agama-agama berbeda di Sri Lanka. Setelah bertahun-tahun, seiring dengan kedekatan mereka satu sama lain dan berkembang bersama-sama, mereka juga semakin saling menghormati dan memahami perbedaan gagasan dan ibadah agama mereka masing-masing. Bertindak bersama telah menyebabkan mereka meyakini masalah secara bersama. Di Colombo, dialog yang sama juga dikembangkan oleh Tissa Balasurya untuk mengajak semua umat beragama mengenal dan menyadari bersama hubungan hakiki antara agama dan masyarakat. Pieris dan Balasuriya merupakan dua suara Kristen yang menonjol dan provokatif yang menyerukan adanya koordinasi di antara berbagai tanggapan terhadap realitas kaum miskin dan kemajemukan agama-agam di Sri Lanka dan di Asia.

4. Desa Katchur
Di desa kecil bernama Katchur di luar kota Madras, ada satu organisasi bernama “Share and Care Children’s Welfare Society” yang dikelola oleh sepasang suami istri Katolik bernama Carmel dan Steven Arokiasamy. Mereka mendirikan panti asuhan yatim-piatu, sekolah dan pusat kesehatan yang dikhususkan bagi para Dalit dan mereka yang berasal dari kasta rendah dalam desa itu serta daerah sekitarnya. Sejak semula mereka selalu mendasari dan memusatkan kegiatan mereka pada komitmen sentral untuk mengembangkan kesejahteraan para Dalit dan seluruh penduduk desa. Selain praksis liberatif, kegiatan ini juga suatu praksis multi-agama, karena mereka bersedia menerima bantuan, baik dari Hindu maupun Kristen, serta bersedia bekerjasama dengan siapa saja yang memiliki komitmen memperbaiki kualitas hidup penduduk desa. Dari praksis liberatif ini, suasana kepercayaan dan dialog mulai terbentuk.

Bab 10. Suatu Kesimpulan Pengantar

Seperti salah seorang pemuka Yesuit yang saya kenal, Jon Sobrino, telah mengingatkan saya (dengan mengutip Irenaeus), Gloria Dei, Vivens Homo -“Kemuliaan Allah ada di dalam kehidupan ciptaan-Nya”. Kalau agama dan buku-buku agama memang mengembangkan kemuliaan Allah, mereka akan juga mengembangkan kesejahteraan ciptaan.

12 Responses

  1. hmmmm………….

  2. Koq agak gak mungkin ya?….
    Di Indonesia (gak sah jauh-jauh) kan gak ada tempat untuk atheis. Nha berarti semua orang harus punya agama… Padahal pemerintah dengan jelas mengatur bahwa “..kepercayaan kepada Tuhan YME bukan Agama”… karena yang dimaksud sebagai agama harus punya (1) Nabi, (2) Kitab Suci dan lain2…. Karena dalam perspektif Kristen, Injil adalah Sabda Yesusl; dan hanya Al Quran yang turun dari langit (karena itu disebut kitab suci),… Maka Agama dapat diartikan sebagai Islam… Berarti cuma ada satu dong… bukan banyak agama…
    Dah ah…

  3. agama ktp ya? tuh dipaksa punya label “agama”….

  4. Agama Islam banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang disebut penyembah berhala atau kafir. Salah satu dogma utama adalah “pengadilan terakhir” yang dipinjam oleh agama Islam dari agama Zoroaster Persia, seperti yang diuraikan secara objektif di artikel ini. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/

    AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

    Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

    Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

    Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

    Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

    Agama bumi dan agama langit.

    Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:

    “Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)

    Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

    Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

    Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

    Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

    Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

    Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

    Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

    Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

    Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

    Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

    Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

    Masalah wahyu

    Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

    Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.

    Pertama, kesalahan mengenai fakta.

    Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.

    Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

    Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir

    Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

    Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

    Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.

    Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

    Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?

    Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

    Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

    Kesimpulan.

    Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

    Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

    Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

    (Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).

    Catatan kaki:
    I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
    2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
    3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
    4). Ibid hal 720.

  5. Satu Bumi Banyak Agama adalah sunattullah sesuai Al Fath (48) ayat 23.
    1. Yaitu Allah memerintahkan kepada semua rasul untuk menyampaikan RISALAH TUHAN / ALLAH sesuai Al Maidah (5) ayat 67, Al An Aam (6) ayat 124,125, Al A’raaf (7) ayat 62,68,79,93,144, Al Ahzab (33) ayat 38,39,40, Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28.
    2. Tetapi umatnya dari salah satu rasul itu menyampaikan RISALAH NABI / RASUL yang dilarang yaitu benar-benar kafir sesuai An Nisaa (4) ayat 150,151,152, dan mengakibatkan memiliki sifat arbaban / memberhalakan / menuhankan nabi sesuai Ali Imran (3) ayat 80, dan sifat arbaban / memberhalakan / menuhankan pemuka-agama selain Allah sesuai At Taubah (9) ayat 31.
    Artinya musrik nabi / pemuka-agama menyimpang dari jalan lurus RISALAH TUHAN / ALLAH sesuai Al Hajj (22) ayat 31.
    Musrik bunuh dengan hujjah ilmu agama sesuai At Taubah (9) ayat 5; Musrik najis sesuai At Taubah (9) ayat 28; Musrik perangi dengan hujjah ilmu agama sesuai At Taubah (9) ayat 36; Musrik tidak ada ampunnya dihadapan Allah sesuai An Nisaa (4) ayat 48,116.
    Bershahadat Tauhid bukan bershahadatain sesuai Az Zumar (39) ayat 45.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi

  6. Untuk penjelasan totalnya terhadap hal-hal tersebut diatas, kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berisi XX+527 halaman berikut lampiran 4 skema acuan berukuran 60×63 cm:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit;
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  7. Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA., Islam, Ahli Peneliti Utama (APU) Balitbang Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai kepada putusan menerima atau menolak dengan hujjah, sebagaimana hujjah yang terdapat didalam buku itu sendiri.

    II. Telah dibedah oleh:
    A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Islam, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun1999-2001.

    B. Prof DR. Budya Pradiptanagoro, Penghayat Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FS Universitas Indonesia.

    C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen ilmu Filsafat Universitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaimana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, dimana keduanya adalah setingkat dan sejajar dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, Pendeta Nasrani, anak paman Siti Hadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ).
    Pertanyaannya yang sulit untuk dijawab akan tetapi sangat logis dan wajar untuk diajukan pertanyaannya adalah, pada waktu Siti Hajidah dan Muhammad sebagai orang baik, patonah, sidik, amin dan lain sebagainya sebelum menerima wahyu melaksanakan pernikahan dengan cara ritual agama apa dan mereka beragama apa ?

    E. Disaksikan oleh 500 peserta seminar dan bedah buku dengan diakhiri oleh dialog tanya-jawab.
    Apabila waktu tidak dibatasi, maka akan mengulur sangat panjang sekali, disebabkan banyaknya gairah pertanyaan yang diajukan oleh para hadirin.

    Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta 100002, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebangkitan agama-agama (1301-1401 hijrah) (1901-2001 masehi)”, diacara Seminar & Bedah Buku hari/tanggal Selasa 27 Mei – Kamis 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Panca Sila Indonesia.

    Waslam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  8. Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penilis: Soegana Gandakoesoema

    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 8573388

  9. menarik, satu tempat berpijak, banyak agama,hampir tak ada yang mengalah.
    yang mengalah dianggap lemah, dan yang menentang dianggap, tidak mau kalah dan merasa selalu benar.

  10. Buku: “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakaoesoema
    Penerbit: GOD-A CENTRE
    Bonus: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)” berukuran 63×60 cm.

    Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal:
    P.T. BUKU KITA
    Telp. 021.78881850
    Fax. 021.78881860

  11. Menanggapi tulisan dari sdr. Ngakan Putu Putra
    Saya kira apa yang anda sampaikan tentang dikotomi agama langit dan agama bumi sangat menarik, hanya saja analisa dan kesimpulan yang anda buat sangat dangkal khususnya tentang agama-agama langit tersebut, apalagi pendapat anda tentang agama Islam.
    Saya ingin memberikan sedikit pandangan saya dan orang muslim umumnya tentang agama langit ini. Maaf kenapa saya mengkhususkan diri dalam hal ini, karena metode sampainya wahyu dengan cara perantaraan Nabi-Nabi, dan diantara tiga agama ini bernasab pada Ibrahim(anak turunan Ibrahim as.).

    Petikan artikel anda yang mengutip Karen Amstrong:
    Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dalam Al-qur’an tak ada satupun petunjuk tertulis maupun tersirat yang menginddikasikan bahwa ALlah Swt. merupakan hasil gabungan dari dewa-dewa yang ada ditanah arab pada zaman jahiliah (kaum musyrik mekkah yang memuja dewa-dewa seperti agama-agama hindu, budha).
    Karen Amstrong dan anda tidak mempelajari sejarah Arab khususnya saat di utusnya Muhammad Saw sebagai nabi, dengan komprehensif dan dari sumber-sumber yang kuat menurut metodologi penelitian yang valid.
    Bahkan diutusnya Muhammad Saw. untuk menerangkan siapa yang pantas disembah manusia dan karakteristik Tuhan secara benar karena telah diselewengkan oleh manusia sebagai makhluk ciptaan Nya (Surat Al-khlas).
    Essensi ketuhanan dalam Islam sepert dalam Al-qur’an,”Allah(Tuhan) tidak menjelma menjadi makhluk apapun juga, makhluk tidak akan pernah menjelma menjadi Allah(Tuhan).”
    Allah adalah zat yang Maha Absolut, berkekalan tak berkesudahan, tak serupa dengan apapun jua dan tak ada apapn yang serupa dengannya.
    Jika Tuhan menjelma menjadi sosok makhluk maka Tuhan telah merendahkan hakikat kemutlakannya yang absolut menjadi suatu yang relatif dan rendah, ini sama sekali tidak merupakan karakter Tuhan Yang Paling Suci dan Paling Agung.
    Hanya untuk memberitahukan makhluknya yang berupa manusia yang melata dibumi ini atau untuk menyelamatkan makhluknya yang bernama manusia Tuhan rela menjadi hina(seperti disalib dan digantung), ini tidak pantas untuk Tuhan(Allah) sebagai yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
    Kemudian jika makhluk/manusia setelah mengalami pencerahan dia lalu menjelma menjadi Tuhan, ini betapa rendahnya dan Tuhan yang Absolut menjadi relatif. Bertentangan dengan hakikat pengertian Tuhan yang maha Mutlak yang tidak sama dengan apapun juga.
    Jika pengertian Tuhan ditempatkan dalam pemahaman-pemahaman sperti itu, maka nilai Tuhan akan runtuh dan sama sekali itu bukan Tuhan.
    Dalam Islam, Tuhan/Allah adalah suatu yang independent tak bergantung setitik pun kepada makhluknya atau apa yang diciptakanNYA.

    Kembali pada pemahaman anda dan karen Amstrong sebagai rujukan anda(cara yang lemah untuk bahan penyelidikan anda karena tidak mengambil banyak sumber yang obyektif dan komrehensif yang bisa dipertanggung jawabkan kapabilitas penelitiannya), bahwa Allah merupakan gabungan dewa hujan atau dewa-dewa lain dalam yang jadi tradisi dan kepercayaan masyarakat jahiliah Mekkah saat itu sma sekali tidak benar.
    Muhammad dengan wahyu yang diterimanya dari Allah, melakukan hal ssebaliknya. Beliau mengkritik keras cara-cara penyembahan manusia jahiliah saat itu, yang mempresentasikan Tuhan dalam aneka macam dewa-dewa. Mereka berdo’a dan menyembah secara situasional atas dewa mana yang selaras dengan keperluan mereka. Jika perlu hujan mohon pada dewa hujan. jika ingin rejeki dan penghidupan mereka berdo’a pada dewa yang lain. mereka dapat bencana berdo’a pada dewa yang lain.
    Suatu pola penyembahan pada dewa yang kurang lebih mirip dengan yang dilakukan orang-orang hindu, budha dsb, hanya saja nama-nama dewanya yang lain tapi karakteristik dewa-dewa itu maupun tujuannya sama.
    Ini hal paling dasar yang ditentang Muhammad saw.
    Muhammad hanya ditugaskan untuk mengembalikan Iman manusia agar kembali menyembah Tuhan Yang Benar. Bukankah seluruh manusia secara fitrah mengakui Eksistensi dan Keberadaan Tuhan? Tuhan Yang Satu, Tuhan Yang Maha Kuasa dsb. Seluruh manusia secara fitrah sebagai makhluk mengakui hal itu, namun mereka menjadi lemah saaat melaksanakn fitrahnya. Ini disebabkan berbagai kungkungan kepentingan, tradisi dsb.
    Muhammad Saw. hanya ditugaskan kepada manusia agar kembali kepada hakikat fitrahnya sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan, untuk menyembah dan hanya berbakti kepadaNya.
    Inilah persoalan sebenarnya dari munculnya banyak aneka ragam agama. Tak peduli ada yang mengklsifikasikan agama langit ataupun agama bumi, yang jelas telah terjadi penyimpangan manusia dalam menyembah Tuhannya.

    Jika ditanyakan kepada manusia-manusia:
    Siapa yang anda sembah?
    Secara aklamasi menjawab Tuhan.
    Berapa Tuhan?
    Secara aklamasi menjawab hanya Satu Tuhan.
    Karena begitulah fitrahnya manusia)

    Jika dilanjutkan dengan pertanyaan, bagaimana cara anda menyembah Tuhan yang anda bilang satu itu?
    disinilah dinamika terjadi dan penyimpangan.
    Ada yang mempersonifikasikan Tuhan sebagai Tuhan yang beranak pinak, ada memanifestasikan Tuhan dalam bermacam dewa dengan bermacam tugas dan fungsinya, entah bernama Brahma, Syiwa, Wisnu dsb.
    Ada yang membuat makhluk mencapai derajat ketuhanan seperti sang Budha Gautama.

    Disinilah persoal itu muncul. kalau ada manusia yang menentang apa yang disampaikan Muhammad saw akan eksistensi Tuhan sejati yang maha Absolut, tak berbilang, tak serupa dengan apa jua, tak menjadi makhluk atau makhluk menjadi tuhan-tuhanan, maka manusia menentang jati dirinya sendiri akal dan pikirannya sendiri?

    PAdahal Weda, Injil/bibel, Taurat semua mengabarkan akan essensi Tuhan sejati, namun dalam pengaplikasian makna Tuhan itu menjadi rancu dan mengalami degradsi makna bahkan keliru.
    Ini terkungkung, kepentingan,tradisi dll.
    Sehingga manusia-manusia yang melakukan itu terkungkung dalam pemikiran sempit sehingga tak nampak kalau mereka tengah melakukan kekeliruan.

    Betapa mudahnya jika segala aspek penyembahan dan berbakti hanya kepada Tuhan yang satu saja? betapa sulitnya penyembahan jika harus dipersonifikasi atau teermanifestasi dalam aneka persepsi berupa dewa-dewa?
    yakinlah lambat laun manusia-manusia yang melakukannya akan mengalami kesulitan dan kian berat melakukan apa yang ditradisikan karena mengikuti nenek moyang ini, sebab itu bukan fitrahnya danbukan caranya.
    Betapa semua nikmat dihamburkan Tuhan untuk manusia hidup didunia ini. Dilebihkan derajatnya dari makhluk apapun dibumi ini. Mngambil semua manfaat bumi yang diciptakan Tuhan ini? lantas bagaimana harus mengucap syukur dan terimakasihnya kepada selain dari Tuhan Yang Satu itu tanpa harus mempersonifikasikannya atau memanifestasikannya?
    Dalam Islam akhirnya hanya dua pilihan untuk manusia, mau jalan Lurus atau mau jalan berkelok alis bengkok. Tak perlu lagi istilah agama samawai atau agama bumi.
    Namun demikian Tuhan pun tak memaksa manusia untuk menyembah hanya kepadanya, kenapa demikian? Sebab Tuhan Yang Maha Absolut dan Satu itu telah melimpahkan akal pada manusia. Dengan itu manusia bisa melakukan kehendaknya.
    Akhirnya, Tuhan sudah memberikan tawaran itu: Mau Lurus silakan sudah ada jalannya, mau bengkok silakan juga.
    Mau ikut taawaran Tuhan Yang maha Absolut Satu tak berbilang, atau mau ikut jalan syetan(yang memang sudah ikrar akan buat manusia-manusia yang tidak menjernihkan akal dan nuraninya menjadi obyeknya, target pembelokannya dari jalan yang lurus lagi terang.

  12. Buku cara mendamaikan agama
    Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika
    bonus
    Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat Kitab Suci Tentang Kesatuan Agama
    tersedia di
    Perumahan BSI Permai Blok A3
    Jl. Samudera Jaya
    Kelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Telp./Fax. 02177884755
    HP. 085881409050

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: