Pengumuman

Kepada Para Pengunjung Sekalian, Perlu Saya Beritahukan Bahwa Blog Ini Pindah Ke www.pargodungan.co.cc

Di Situs Tersebut Anda Akan Menemukan Tulisan-Tulisan Terbaru Saya.

Terimakasih.

Chapter #2: Silent is gold

💡 : ….
😎 : So cool…
💡 : ….
👿 : So sexy…
💡 : GILAAAAAA!!!!

Epilog : The title maybe wrong. Silent is ….

Chapter #1: I’ll be back soon

💡 : Ahh, akhirnya ini detik-detik terakhirku sebelum aku harus kembali ke ibu pertiwi.

😎 : Lo.. kayaq mo mati??

💡 : Bukan begitu, maksudku besok udah harus kembali ke Siantar lagi deh untuk mencari ilmu. Kalau dipikir-pikir semuanya menjadi penyesalan. Kenapa ya penyesalan selalu datang terlambat.. Duluan keq.. Akhh.. Hiks..

👿 : Makanya jangan bandel ma orangtuamu. Untung belum jadi anak durhaka loe..

😎 : Iya, tuh dengerin Devil.

💡 : Please deh, kalian ini betul-betul ga ngerti ya. Aku nyesel karena harus perang lagi sama buku-buku teologi n semacamnya itu lo. $#@!%*$#!!!

👿 : Waduh mas galak amak, pie to.. Maklum lah kalau kami ini harus sering berburuk sangka. Lagian mas kan yang ngasih tugas begituan sama kami bedua. Tapi untung aja tugasnya ga berat-berat. Cuma untuk di fitnah habis-habisan. Hehehe

😎 : Iya tuh, dengerin Devil.

💡 : Bodo ahhh, dasar pada gila!!! Kalian koq bilang itu di depan umum!!!!!!! (kaburr…)

👿 : Hehehe, untung mr idea lagi di dunia ilusi, jadi ga sadar klo kita itu cuma becanda.. Huahahhkkakkkkkkakhk

😎 : Iya tuh, dengerin Devil.. Lho???

👿 : Ee.. Angel Oon!!

Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama dan Tanggung Jawab Global

Catatan: Artikel ini merupakan risalah dari buku Dr. Paul F. Knitter, Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama dan Tanggung Jawab Global

Prinsip fundamental kisah penciptaan ilmiah (mis. Teori Big Bang) sejalan dengan apa yang diakui kebanyakan agama tentang kisah penciptaan. Dengan kesadaran baru tentang alam semesta dan pemahaman atas hubungan ekologis kita dengannya, kita bisa berbicara tentang alam semesta sebagai suatu komunitas keagamaan yang lebih luas, di mana berbagai komunitas sejarah dari berbagai agama yang khusus dan beragam bisa saling mengenal dan sadar; bagaimana agama yang khusus dan beragam bisa saling mengenal dan sadar; bagaimana kisah individu mereka masingmasing merupakan bagian dari kisah alam semesta. Di dalam komunitas Bumi yang baru ditemukan ini, agama bisa saling memahami dengan cara yang baru. Oleh karena apa yang kita ketahui tentang Bumi dan alam semesta masa kini membekali agama bukan hanya dengan kemungkinan untuk memiliki kisah religius yang sama tetapi juga, dengan suatu tugas etis bersama yang diperlukan dan pedoman untuk menjalankan tugas itu…

Continue reading

Bersikap Positif dan Jujur terhadap Diri Sendiri

Pada awalnya saya memandang bahwa fanatisme sebagai suatu kata yang berkonotasi negatif. Akan tetapi setelah saya mencoba membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebagai acuan baku dalam dunia bahasa Indonesia, ternyata yang saya temukan justru maknanya masih bersifat netral.

Beranjak dari pengalaman diatas, saya mencoba merunut lagi pemikiran saya ke belakang…

Continue reading

Catatan Pendek mengenai Kekristenan di Jepang

Ada dua sebab yang menyebabkan keluarnya edik perlawanan terhadap kekristenan. Pertama adalah bersifat ideologis dan kedua adalah masalah politik praktis. Kekristenan menawarkan bentuk alternatif yakni suatu otoritas mandiri individu di luar tradisi Jepang dan bakufu. Ini tidak dapat diterima oleh penguasa Jepang. Rezim mereka membutuhkan loyalitas penuh dari masing-masing penduduknya. Penganut agama Buddha dibiarkan adalah karena agama Buddha telah diterima sebagai agama Jepang, dengan melihat kenyataan bahwa dia sudah ada sejak lama. Akan tetapi disamping itu selain karena memang pada saat itu agama Buddaha sangat lemah, ada juga pendapat bahwa Hideyoshi memandang penganut agama Buddha dapat dihancurkan dengan memanfaatkan tindakan-tindakan penindasan yang dilakukan oleh institusi keagamaannya. Oleh karena itu dia dapat memperalat institusi agama Buddha demi kehancurannya sendiri.  Continue reading

Kekristenan di tengah-tengah Kepelbagaian Agama (Menurut Ajaran Karl Barth)

Barth, Wikipedia  “Sikap yang benar-benar teologis terhadap agama dan agama-agama, sebagaimana hal tersebut diharuskan dan dimungkinkan dalam Gereja sebagai locus agama Kristen, adalah toleransi yang digaungkan oleh setiap agama. Toleransi bukanlah merupakan suatu “semangat untuk bersikap tidak berlebihan” terhadap penganut dan religiusitas agama lain. Toleransi yang dimaksud adalah “melatih pengendalian diri” terhadap mereka yang telah mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa iman mereka bukanlah satu-satunya iman, bahwa fanatisme adalah hal yang buruk, bahwa kasih harus selalu menjadi kata pertama dan terakhir. Toleransi tidak boleh dibingungkan oleh sikap menyendiri orang yang rasionalistis yang berpendapat bahwa dia dapat merasa nyaman dan pada akhirnya berhasil dengan semua agama-agama melalui konsep agama yang benar. Dan juga toleransi tidak harus dibingungkan dengan relatifisme dan skeptisime yang tidak memihak, yang tidak mempertanyakan kebenaran dan ketidakbenaran dalam fenomena keberagamaan. Pandangan-pandangan tersebut sebenarnya memandang bahwa agama-agama dan manusia sebagai masalah yang serius…” Continue reading